Profil

Mbak Nur

Terlahir sebagai wanita muslim di lingkungan keluarga dan masyarakat yang memeluk agama islam di Kota Jepara, membuat Mbak Nur memilih profesi yang sesuai panggilan jiwanya, yaitu Motivator Muslimah & Praktisi Ruqyah Modern.

Karena beliau lahir di lingkungan warga kampung yang memang kebiasaannya anak – anak kecil sejak usia 3 tahun sudah mulai belajar mengaji, ini membuatnya lebih cepat khatam Al-Qur’an.

Hidup seperti anak kampung biasa yang mengenyam pendidikan Sekolah Dasar di pagi hari, di lanjutkan sore hari mengenyam bangku pendidikan Madrasah diniyah awwaliyah yang beliau mulai usia 9 tahun, beliau jalani selama 4 tahun, ditambah melanjutkan madrasah diniyah wustha selama 2 tahun.

Selain menjalani pendidikan formal beliau juga mengampu pendidikan non-formal, seperti setelah magrib mengaji di musholla yang di pimpin oleh bu Nyai, begitulah sebutan para santri untuk guru ngaji mereka di lingkungan Mbak Nur.

Hingga sekolah Madrasah Tsanawiyah ( Setingkat dengan SMP) Mbak Nur pun, sore harinya menjalani pendidikan Madrasah Diniyah Wustha. Hari – hari Mbak Nur kecil saat itu dirasa sangat membosankan, karena dituntut orang tuanya untuk selalu belajar, belajar dan belajar.

Bahkan karena Bu Nyai sudah kenal akrab dengan Mbak Nur, maka tiap siang hari, selesai sholat dzuhur berjama’ah, Bu Nyai selalu memanggil Mbak Nur untuk membantunya mencuci pakaian, menyapu dan kegiatan beberes rumah lainnya. Dalam pikiran anak sekecil Mbak Nur saat itu, pasti melelahkan dan membuatnya seperti terkurung, tidak bisa main sebebas teman-temannya yang lain.

Namun, justru itulah yang membuatnya dinilai lebih unggul dari teman-teman sebayanya. Karena dari kegiatan bersama Bu Nyai itulah Mbak Nur kecil sudah praktik secara langsung tentang bab Thaharah atau bersuci, yang biasanya kebanyakan orang pada umumnya hanya belajar lewat teori saja, Mbak Nur berkesempatan praktik langsung dan di awasi oleh Bu Nyai. Begitulah kehidupan Mbak Nur kecil yang sarat dengan pendidikan yang diwajibkan oleh orang tuanya.

Setelah masuk ke jenjang Sekolah Menengah Atas, Mbak Nur sudah mulai merasakan kebebasan, karena orang tuanya mengizinkannya untuk tidak mengenyam bangku Madrasah Diniyah Ulya yang seharusnya dijalaninya selama 2 tahun, karena kesibukannya di sekolah formal. Namun hal ini justru membuatnya merasa kehilangan sesuatu, hingga akhirnya beliau tetap mempelajari sendiri kitab – kitab khusus yang menurutnya bermanfaat untuk bekal hidup di masa depannya nanti. Seperti kitab – kitab klasik (kuning) seperti Al- jurumiyah, Imriithii, Ta’limul Muta’allim, Fathul Qariib, Bulughul Maram, Kifayatul Akhyar, Tafsir Jalalain, Tafsir ibn’ Katsir dan Riyadus Shalihin. Beliau menyadari tidak belajar di Madrasah aliyah yang mendapatkan pelajaran langsung tentang Qiro’atul kutub.

Bahkan saat beliau mengenyam pendidikan di bangku Universitas pun, beliau masih selalu haus ilmu, kesana – kemari untuk mencari guru, agar hatinya tidak kosong. Beliau selalu berprinsip bahwa ilmu untuk bekal dunia dan bekal akhirat harus seimbang.

Salah seorang Kyai yang juga Guru beliau yang tinggal di Kota Kudus Pun selalu berpesan pada beliau untuk mengamalkan isi sebuah hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radiallahu ‘anhu berbunyi sebagai berikut:

اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

Artinya: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”

Dari hadist itu beliau tidak menyia-nyiakan masa muda beliau untuk bersenang-senang saja. Selain kuliah di jurusan Ekonomi dan bisnis, belajar mengaji untuk memperdalam ilmu agamanya, beliau juga menyempatkan waktu untuk bekerja paruh waktu, karena beliau sadar betul, beliau tidak dilahirkan dari keluarga yang kaya raya.

Sakit – Sakitan Dan Hampir Tak Tertolong

Menjadi seperti sekarang ini tentu bukanlah hal yang mudah, banyak perjuangan yang harus di lalui. Ada banyak keajaiban – keajabian serta keanehan dari saat Mbak Nur di dalam kandungan hingga ia di lahirkan.

Menurut cerita orang tua Mbak Nur, ketika masih didalam kandungan, ada seorang musafir jalanan yang sedang melakukan tirakat ngelmu, musafir tersebut berkata pada ibunda Mbak Nur yang secara tidak sengaja bertemu “jabang bayi sing mbuk kandut bakale iki dadi wong kang isa migunani marang liyan, kaya cahya kang murup miguna maring kaluargamu lan tangga teparo, Aku nitip pesen jenakno jabang bayi ini Nur – cahya, mugi – mugi Gusti tansah maringi sehat lan gampang anggonmu babaran” kalau diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia artinya kurang lebih seperti ini “Bayi yang dikandunganmu ini kelak akan menjadi orang yang berguna bagi orang lain, seperti cahaya yang menyinari dan berguna untuk keluarga dan banyak orang, saya menitipkan pesan padamu agar jika anak ini lahir berilah nama NUR atau cahaya, semoga Tuhan memberikan kesehatan dan dimudahkan ketika bersalin”

Selain itu Bu Nyai pun menunjukkan sikap yang berlebihan seperti sangat memperhatikan kandungan ibunda Mbak Nur saat itu, padahal bukan anggota keluarganya. Mulai dari diberikan wejangan serta berbagai macam amalan yang seharusnya di amalkan oleh wanita hamil. Disarankan juga untuk tirakat puasa khusus untuk mengharap keselamatan dan perlindungan terhadap ibu dan janin.

Ketika Ibunda mengandung Mbak Nur beliau pun tidak sanggup melihat matahari pagi, jika terkena sinar matahari pagi, justru membuat sang bunda pingsan, hal itu terjadi semenjak awal kehamilan sampai menjelang kelahiran. Normalnya, jika itu hanya bagian dari mengidam, pasti hanya terjadi di trimester awal kehamilan bukan?

Ketika Mbak Nur lahir, beliau diberi nama oleh Kakeknya “Ngatmini” karena lahir pada hari Minggu atau Ahad, dan kakeknya termasuk orang Jawa Kuno yang masih memegang teguh hitungan weton dan neptu kelahiran.

Kalau menurut kakek beliau, dilihat dari weton, hastawara atau padewan Mbak Nur ini “Yama” yang bersifat sederhana dan pemaaf. Kalau “saptawaranya” adalah Sumur Sinaba yang berarti Luas wawasan, bisa menjadi sumber orang mencari ilmu. Sedangkan “parasannya” adalah lakuning angin yang berarti bisa membuat orang lain senang namun menakutkan juga kalau marah. Karena memiliki kakek yang juga paham kejawen, weton pun di artikan. Meskipun demikian Mbak Nur mengatakan untuk diambil yang baik – baiknya saja, yang sekiranya menyimpang tidak perlu kita imani.

Setelah diberi nama “Ngatmini”, Mbak Nur menjadi bayi yang sakit – sakitan. Keluar masuk rumah sakit untuk rawat inap hampir terjadi setiap bulannya, bahkan ayah Mbak Nur yang saat itu bekerja di Perantauan pun harus rela meninggalkan pekerjaannya di luar kota agar bisa mendampinginya di daerah.

Penyakitnya pun menurut dokter beragam, mulai dari yang Flek, paru-paru, jantung lemah hingga keracunan obat. Namun ayah Mbak Nur berkonsultasi dengan seorang kyai, kemudian kyai tersebut mengatakan pada ayah Mbak Nur bahwa “Ada amanah yang tidak di indahkan”.

Sebagai ayah yang melihat anak pertamanya kesakitan, tidak bisa tidur karena terus menerus batuk, nafasnya berat dan hanya bisa melambaikan tangan seperti mengucapkan salam perpisahan tentu sangat sedih dan kebingungan, karena tidak tahu jawaban atas “amanah yang tidak diindahkan” itu apa”.

Tak henti – hentinya keluarga beliau ikhtiar mencari pengobatan medis & non-medis, bahkan hampir setiap perkataan orang tentang pengobatan diikuti oleh orang tua beliau untuk kesembuhan Mbak Nur kecil, tentu tak lupa tetap memohon doa kepada Allah swt.

Di tengah keputusasaan orang tuanya, selesai sholat istikharoh yang kesekian kali, Ayah Mbak Nur diberi petunjuk lewat mimpi tentang apa yang dialami istrinya saat hamil bertemu musafir. Mimpi itu kemudian diceritakan oleh Ayah Mbak Nur pada istrinya, dan dari situlah ibunda kembali mengingat kenangan lama tentang Sang Musafir yang memberi pesan lewat Nama.

Setelah musyawarah dengan keluarga besar, para kyai, para Guru termasuk kakek Mbak Nur akhirnya membuat kepusuan untuk mengganti nama “Ngatmini” diganti dengan “Nur”. Alhamdulillah, seperti keajaiban ditengah badai, Mbak Nur kecil pun mulai berangsur sembuh dari sakit. Sudah mulai belajar berjalan dan tumbuh seperti anak pada umumnya. Namun ada yang janggal dari perkembangan Mbak Nur, yang terlihat lebih menonjol dibanding anak lainnya.

Perjalanan Spiritual Mbak Nur

Banyak sesepuh dan para guru yang mengatakan pada Ayah Mbak Nur, bahwa Mbak Nur ini bisa dikatakan “Nyawa Kliwatan” kata tersebut bisa diartikan dengan “hampir mendekati maut”. Dan menurut kepercayaan, seseorang yang hampir mendekati maut pasti sedikit berbeda dengan bocah seusianya, sehingga mereka mengatakan untuk benar-benar menjaga dan mengarahkan Mbak Nur ke jalan yang di ridloi Allah.

Karena itulah Orang tua beliau sangat keras pada pendidikan agama Mbak Nur, bahkan setiap kali bulan Ramadhan beliau selalu dikirim ke pesantren untuk melakukan “Pasanan”.

Selain itu Ayah Mbak Nur juga sering mengajak Mbak Nur untuk wisata religi, sowan ke makam – makam waliyullah, bukan untuk meminta, namun untuk mengenalkan para waliyullah di tanah Jawa, agar batin Mbak Nur lebih dekat dengan Tuhannya dan lebih mencintai agamanya, sehingga bisa mempertebal imannya sedini mungkin.

Pernah ada kejadian aneh yang di alami oleh Mbak Nur kecil, setiap boneka yang dimilikinya selalu mengeluarkan suara tangis ketika Mbak Nur membaca ayat-ayat al -Qur’an, dan tentu boneka-boneka tersebut selalu berakhir dengan cara dibakar oleh ibundanya, hingga sampai dewasa Mbak Nur tidak pernah memiliki boneka.

Menjadi Motivator Muslimah & Praktisi Ruqyah Modern

Awal beliau memilih menjadi praktisi ruqyah modern adalah karena seringnya beliau mengikuti kajian – kajian yang di akhiri dengan ruqyah masal. Dalam acara ruqyah masal tersebut banyak peserta ruqyah yang mengalami kesurupan dan teriak – teriak serta menunjukkan reaksi yang lain sebagainya.

Dari berbagai jama’ah yang datang, sebetulnya banyak yang ingin di ruqyah untuk menghilangkan berbagai macam hal – hal negatif tak kasat mata dalam dirinya, namun kebanyakan dari mereka malu jika saat di ruqyah mereka menunjukkan reaksi yang berlebihan seperti itu.

Menunjukkan reaksi kesurupan dan lain sebagainya saat di ruqyah sebetulnya menjadi hal yang lumrah, namun jika ada sebagian orang yang tidak menerima hal itu, sebagai orang yang lebih berilmu, seharusnya kita juga bisa belajar hal baru agar orang – orang yang ingin di ruqyah namun malu terhadap reaksinya ini bersedia untuk diruqyah tanpa rasa khawatir atau takut.

Akhirnya setelah mencoba berbagai macam metode dan berkonsultasi dengan para guru serta dosen beliau, Mbak Nur pun membuat metode baru, yaitu ruqyah modern. Ruqyah yang tetap membacakan ayat – ayat suci al-Qur’an namun diberikan support sistem secara psikologi klinis dari si pasien, karena basicnya Mbak Nur juga seorang terapis dan konsultan rumah tangga.

Alhamdulillah setelah mencoba ruqyah modern dan berhasil ini, beliau berani memperkenalkan ruqyah modern yang beliau buat. Beberapa rekan kajian beliau yang dulunya enggan di ruqyah karena takut dengan reaksinya yang berlebihan, setelah diperkenalkan dan mencoba ruqyah modern ala Mbak Nur pun jadi terbiasa melakukan ruqyah mandiri sekarang dengan sarana tasbih ruqyah dari Mbak Nur.

Ruqyah modern yang diperkenalkan oleh Mbak Nur ini bukan hanya soal penyembuhan rasa sakit ya teman – teman, namun bisa juga meruqyah kerezekian anda, jika selama ini anda selalu merasa kesulitan dalam soal keuangan maka bisa ikhtiar dengan ruqyah rezeki, agar hal – hal negatif yang sifatnya gaib dan menyumbat pintu rezeki anda bisa dihilangkan dengan kekuatan doa, dzikir serta ayat – ayat suci Al-Qur’an.

Ruqyah Modern Semakin Terkenal

Seiring berjalannya waktu, ruqyah modern semakin dikenal masyarakat luas dan panggilan sebagai motivator muslimah pun semakin menyita waktu Mbak Nur, sehingga saat ini Mbak Nur pun tidak bisa ditemui semudah dulu.

Jika anda ingin mendapatkan pelayanan ruqyah modern atau ingin konsultasi dengan Mbak Nur atau juga ingin mengundang Mbak Nur (Motivator Muslimah) sebagai pengisi acara anda, maka anda bisa menghubungi Admin beliau di 081 22222 8541 (Firda)